
Bandung, 2 Mei 2025 – Program Studi Pendidikan Khusus Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar kuliah umum bertajuk “Innovation of Inclusion on Education” yang menghadirkan narasumber internasional, Prof. Masataka dari Jepang. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat pagi di Ruang Rapat FIP Lantai 3 dan dihadiri oleh dosen, tenaga kependidikan, kepala sekolah, serta guru-guru dari SLB dan SD Inklusi se-Kota Bandung.
Kuliah umum ini dibuka secara resmi oleh Kaprodi PKh dan dimoderatori oleh Prof. Juhananini, M.Ed, dengan dukungan penerjemah oleh Anna Fatimmatuzzahra. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam mengenai inovasi dalam pendidikan inklusif, khususnya melalui pendekatan Lesson Study (LS) yang telah berkembang luas di Jepang dan berbagai negara lainnya.
Dalam pemaparannya, Prof. Masataka menjelaskan bahwa Lesson Study merupakan suatu model pengembangan profesional guru yang berbasis pada kolaborasi, refleksi, dan penelitian praktik di dalam kelas. Ia menekankan bahwa Lesson Study bukanlah alat untuk mengevaluasi kinerja guru, melainkan suatu pendekatan untuk terus belajar bersama demi meningkatkan kualitas pembelajaran. Melalui siklus kegiatan yang melibatkan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan, observasi oleh sejawat, serta refleksi bersama, guru diajak untuk memahami lebih dalam bagaimana siswa belajar dan bagaimana proses tersebut dapat ditingkatkan.

Prof. Masataka menggambarkan peran guru dalam LS layaknya tokoh Doraemon, yang harus memiliki “kantong ajaib” berupa beragam pendekatan dan strategi pembelajaran untuk menghadapi berbagai karakteristik siswa di kelas. Filosofi LS berangkat dari pandangan bahwa setiap siswa adalah unik, sehingga pendekatan pembelajaran harus adaptif dan berbasis pada kebutuhan nyata di lapangan.
Menambah perspektif lokal, Dr. dr. Riksma Nurahmi R.A, M.Pd turut menyampaikan pengalaman implementasi Lesson Study di lingkungan UPI sejak tahun 2004. Ia menekankan bahwa UPI telah lama menjalin kerja sama internasional dalam pengembangan LS, seperti dengan CRICED Tsukuba dan berbagai universitas di Thailand. Dalam praktiknya, LS di UPI telah melibatkan dosen, guru, kepala sekolah, dan pengawas melalui kegiatan open class, observasi kolaboratif, serta refleksi terbuka berbasis video pembelajaran dan formulir pengamatan.

Sesi diskusi berlangsung antusias, dengan banyak pertanyaan dari guru SLB dan SD Inklusi seputar penerapan LS dalam konteks sekolah mereka. Beberapa guru mengungkapkan tantangan dalam mengelola kelas inklusi yang terdiri dari siswa berkebutuhan khusus dan siswa tipikal. Mereka juga bertanya mengenai perbedaan antara Lesson Study dan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), serta bagaimana langkah awal untuk memulai LS di sekolah yang belum terbiasa dengan model tersebut.
Menanggapi hal tersebut, Prof. Masataka menegaskan bahwa Lesson Study bersifat fleksibel dan dapat dimulai dari ruang lingkup kecil dengan dukungan kepala sekolah dan rekan sejawat. Ia juga menyampaikan kesediaannya untuk mendampingi sekolah-sekolah di Indonesia yang ingin mengembangkan LS sebagai bagian dari budaya belajar guru.
Kegiatan kuliah umum ini tidak hanya menjadi ruang belajar bersama, tetapi juga momentum penting dalam membangun jejaring dan kerja sama internasional dalam pengembangan pendidikan inklusif yang lebih inovatif dan berkelanjutan. Para peserta meninggalkan ruangan dengan semangat baru dan wawasan segar tentang pentingnya refleksi dalam praktik pembelajaran dan kolaborasi profesional antar guru.