
Bandung, 2 Mei 2025 – Program Studi Pendidikan Khusus Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menyelenggarakan Kuliah Umum bertajuk “Inovasi Asesmen dan Intervensi Anak Berkebutuhan Khusus Berbasis Model Jepang” pada Jumat, 2 Mei 2025, bertempat di Ruang Rapat FIP Lantai 3. Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama, Ukai Saito Sensei dari Jepang, pakar pendidikan dan pendiri pusat intervensi TASUC (Total Approach Support Center), yang selama ini dikenal dengan pengembangan pendekatan J☆SKEPS untuk anak berkebutuhan khusus (ABK).
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua Program Studi Pendidikan Khusus, Sekretaris Program Studi, para dosen, serta mahasiswa tingkat akhir yang sedang mendalami asesmen dan intervensi anak dengan kebutuhan khusus.

Dalam pemaparannya, Ukai Sensei menyampaikan harapan besarnya agar dalam satu hingga dua tahun ke depan, mahasiswa UPI dapat memperoleh sertifikasi dalam bidang asesmen ABK dan memiliki kesempatan terlibat langsung dalam praktik di lapangan, termasuk di pusat pelatihan yang nantinya dapat dikembangkan di Indonesia. Beliau menyoroti pentingnya edukasi tidak hanya kepada guru, tetapi juga kepada organisasi yang menangani penyandang disabilitas.
Salah satu hal utama yang dijelaskan dalam kuliah umum ini adalah metode asesmen TRYFULL, yaitu metode asesmen berbasis skala 0 hingga 8 dengan memanfaatkan alat bantu tradisional yang dirancang aman bagi ABK, seperti buku jadwal tanpa gambar, krayon berbahan dasar beras, dan alat bantu matematika. Semua material telah dikemas dalam paket asesmen yang aman dan sistematis, memungkinkan kegiatan dilakukan secara menyenangkan dan adaptif.
Ukai Sensei juga memperkenalkan konsep J☆SKEPS, pendekatan yang dikembangkan oleh National Institute of Education di Jepang. Konsep ini mencakup empat domain utama: pengelolaan perilaku (kesiapan belajar, pemahaman instruksi, manajemen diri), komunikasi (kemampuan ekspresif), imitasi (kemampuan meniru perilaku), serta kognisi (kemampuan memilih objek). Semua aspek tersebut menjadi dasar untuk merancang strategi intervensi berbasis kemandirian anak.
Dalam sesi ini, Ukai Sensei juga membagikan data statistik perkembangan anak di Jepang, termasuk tantangan yang dihadapi oleh anak berkebutuhan khusus saat dewasa. Ia menjelaskan bahwa penurunan fungsi fisik pada individu dengan kebutuhan khusus cenderung lebih cepat, yaitu sejak usia 55 tahun, dibandingkan usia 75 tahun pada populasi umum. Hal ini memunculkan kekhawatiran terkait siapa yang akan merawat mereka ketika orang tua sudah lanjut usia. Oleh karena itu, pembekalan keterampilan vokasional dan kemandirian sejak dini menjadi sangat penting.
Lebih lanjut, TASUC mengembangkan asesmen digital berbasis aplikasi yang memungkinkan anak menyusun jadwal sendiri, serta memperhatikan kondisi rumah dan keseharian anak sebagai bagian dari proses asesmen. Penilaian keterampilan anak dilakukan secara detail, mulai dari cara menggunakan gunting (diperhatikan bentuk tangan kanan dan kiri), penggunaan lem, hingga postur duduk dan keseimbangan tubuh.
Ukai Sensei juga menjelaskan bahwa fungsi keseimbangan sangat terkait dengan fokus dan kerja otak, terutama pada anak berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, postur tubuh saat belajar, latihan koordinasi mata dan tangan, serta teknik interaksi seperti cara menggenggam tangan anak, menjadi aspek penting dalam pelatihan.
Tidak hanya membahas asesmen, sesi ini juga menjelaskan teknik intervensi sensorik, termasuk pelatihan lidah untuk anak yang kesulitan berbicara, penggunaan alat tiupan, serta latihan vokal dan pernapasan agar anak dapat melafalkan kata secara utuh. Semua latihan dilakukan secara bertahap, konsisten, dan dengan alat bantu khusus yang aman bagi anak.
Kegiatan ini diakhiri dengan sesi diskusi interaktif antara mahasiswa dan narasumber. Beberapa mahasiswa seperti Reksa Agustian, Irfana Rahman Diena, Riski Eka Pradana, Sofi Septiani Julaeha Nursaniah, dan Naktania mengajukan pertanyaan seputar penggunaan teknologi bagi anak autis, penanganan tantrum, keterlibatan orang tua dalam asesmen, hingga adaptasi metode TASUC di sekolah-sekolah Indonesia.
Dalam jawabannya, Ukai Sensei menegaskan bahwa metode asesmen komprehensif yang dilakukan di TASUC sangat memungkinkan diterapkan di Indonesia. Ia juga menekankan bahwa asesmen ideal dilakukan sejak usia 2–5 tahun, namun tidak menutup kemungkinan dilakukan pada usia lebih tinggi. Hasil asesmen kemudian digunakan sebagai dasar untuk menyusun program intervensi tahunan yang disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi perkembangan anak.
Kegiatan kuliah umum ini menjadi momen penting untuk membuka cakrawala mahasiswa dan akademisi dalam memahami pendekatan yang lebih manusiawi, terukur, dan berpusat pada anak dalam proses pendidikan anak berkebutuhan khusus. Harapannya, melalui kegiatan ini, sinergi antara ilmu, praktik, dan kebijakan dapat terus dikembangkan demi mendukung kualitas hidup anak-anak dengan kebutuhan khusus di Indonesia.