Lompat ke konten

Hasil Riset Nasional Ungkap Peta Perilaku Seksual Anak Berkebutuhan Khusus: UPI dan 6 PTN Dorong Urgensi Pendidikan Seksualitas di SLB

Bandung, 23 Agustus 2025 – Hari kedua Pelatihan Nasional Penguatan Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas bagi Disabilitas yang berlangsung di Ruang The Beatles, Hotel California, Bandung, menjadi sorotan penting dengan digelarnya Diseminasi Hasil Kolaborasi Riset Nasional Pemetaan Perilaku Seksual Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Tahun 2025. Kegiatan ini mempertemukan para peneliti dari enam Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia, meliputi Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Universitas Negeri Padang (UNP), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Negeri Manado (UNIMA), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), dan perwakilan SLB dari berbagai provinsi.

Acara dipandu oleh dr. Yoga Budhi Santoso, M.Pd. dan dibuka oleh Dr. dr. Riksma Nurahmi RA, M.Pd., Kaprodi Pendidikan Khusus UPI. Dalam sambutannya, Riksma menegaskan bahwa hasil riset ini merupakan langkah awal yang signifikan dalam memahami fenomena perilaku seksual pada ABK. “Hasil ini tidak hanya menjadi cerminan kondisi di lapangan, tetapi juga bahan untuk memperkuat strategi pencegahan dan intervensi pendidikan seksual di sekolah luar biasa,” ujarnya.

Hasil riset yang disajikan memperlihatkan variasi bentuk perilaku seksual pada ABK di enam provinsi (Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, dan Jawa Barat). UNS mengungkap empat kategori perilaku seksual yang kerap muncul di SLB Jawa Tengah, mulai dari perilaku non-verbal seperti menyentuh tubuh orang lain tanpa izin, perilaku verbal berupa ucapan seksual, hingga perilaku yang membahayakan diri sendiri dan orang lain. Faktor utama penyebabnya adalah minimnya pengawasan di rumah dan rendahnya pemahaman tentang batas tubuh.

UNP menyoroti dominasi perilaku non-verbal pada siswa tunanetra dan anak dengan hambatan intelektual di Sumatera Barat, sementara UM menemukan tingginya perilaku menyentuh tubuh sendiri secara berulang pada siswa di Jawa Timur akibat lemahnya literasi kesehatan reproduksi di rumah dan sekolah. UNIMA mencatat tingginya perilaku berisiko seperti meraba orang lain di Sulawesi Utara, dengan faktor pemicu berupa akses bebas terhadap media tanpa pendampingan.

Sementara itu, Jawa Barat menjadi salah satu wilayah dengan temuan perilaku ekstrem, seperti masturbasi di tempat umum dan menyentuh area pribadi teman. Riset menunjukkan kurangnya pengawasan orang tua, hambatan komunikasi, dan minimnya pendidikan karakter sebagai penyebab utamanya.

Sebagai penutup, Prof. Dr. Budi Susetyo, M.Pd. (UPI) menyampaikan bahwa hasil riset ini akan menjadi fondasi penting bagi pengembangan kebijakan dan kurikulum pendidikan seksual di SLB. “Data ini harus menjadi alarm bagi kita semua. Pendidikan seksual bagi ABK bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak untuk melindungi dan memberdayakan mereka,” tegasnya.

Diseminasi ini menegaskan peran Program Studi Pendidikan Khusus UPI sebagai motor penggerak riset nasional di bidang pendidikan seksualitas bagi disabilitas. Kolaborasi lintas universitas ini diharapkan mampu melahirkan kebijakan pendidikan yang lebih responsif, kurikulum berbasis bukti, serta sinergi antara sekolah, orang tua, dan tenaga kesehatan demi terciptanya lingkungan belajar yang aman dan mendukung bagi anak berkebutuhan khusus di seluruh Indonesia.