Lompat ke konten
Lokakarya PKRS 2024: Mengintegrasikan Pendidikan Seksualitas dan Reproduksi bagi Remaja Berkebutuhan Khusus di Kurikulum Pendidikan Khusus

Lokakarya PKRS 2024: Mengintegrasikan Pendidikan Seksualitas dan Reproduksi bagi Remaja Berkebutuhan Khusus di Kurikulum Pendidikan Khusus

Bandung, 5 Juli 2024 – Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan bagi remaja berkebutuhan khusus, Program Studi Pendidikan Khusus di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar Lokakarya Integrasi Program Perkuliahan PKRS (Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas). Acara yang berlangsung di Hotel California Bandung pada 5-7 Juli 2024 ini, dihadiri oleh berbagai ahli dan praktisi di bidang pendidikan kesehatan reproduksi.

Lokakarya ini diawali dengan sambutan hangat dari Ketua Program PKRS, Prof. Dr. Endang Rochyadi, M.Pd, yang menekankan pentingnya mata kuliah PKRS sebagai satu-satunya program di Indonesia yang ditujukan khusus untuk pendidikan luar biasa. “Program mata kuliah PKRS ini merupakan satu-satunya di Indonesia yang terintegrasi dalam pendidikan khusus, dan memiliki peran krusial dalam membekali remaja berkebutuhan khusus dengan pengetahuan yang mereka butuhkan,” ujar Prof. Endang.

Dr. Nandang Budiman, M.Si, selaku Wakil Dekan Bidang Akademik FIP UPI, juga menyampaikan sambutannya dengan menggarisbawahi relevansi kurikulum PKRS dengan kebutuhan masyarakat. “Kurikulum PKRS sangat penting dan sesuai dengan kurikulum Pendidikan Khusus. Topik ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat, khususnya bagi anak-anak berkebutuhan khusus,” jelas Dr. Nandang.

Acara ini dilanjutkan dengan berbagai sesi materi yang menarik. Sesi pertama menghadirkan tim dari Yayasan Gemilang Sehat Indonesia (YGSI) yang membahas modul-modul PKRS yang telah mereka kembangkan. Dilanjutkan dengan Dr. Amala Rahma, M.Kes yang memaparkan perkembangan PKRS di negara-negara maju, memberikan wawasan global yang berharga.

Dr. Laksmi Dewi, M.Pd, dalam sesi ketiga, mengulas peran dosen dan arah kebijakan kurikulum baru UPI yang akan lebih inklusif dan adaptif terhadap kebutuhan khusus remaja. Sementara itu, sesi terakhir oleh Angga Hadiapurwa, M.I.Kom, membahas rencana pembelajaran semester dan penggunaan modul digital, memberikan solusi modern dalam implementasi PKRS.

Program Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas ini telah berjalan selama dua tahun, dan selama itu telah menghasilkan berbagai karya inovatif dari dosen dan mahasiswa. Program ini juga didukung oleh kerjasama dengan organisasi internasional seperti Rutgers dan YGSI, memperkuat komitmen UPI dalam meningkatkan pendidikan kesehatan reproduksi bagi remaja berkebutuhan khusus di Indonesia.

Lokakarya ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi dan strategi implementasi yang lebih efektif dalam mengintegrasikan PKRS ke dalam kurikulum pendidikan khusus, serta memberikan dampak positif yang signifikan bagi para remaja berkebutuhan khusus di seluruh Indonesia. (Meggy)

Bahasa
Skip to content