Bandung, 16 Mei 2025, Pada kegiatan kuliah umum yang diselenggarakan baru-baru ini, mahasiswa Program Studi Pendidikan Khusus (PKh) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) mendapatkan kesempatan langka untuk belajar langsung dari ahli internasional asal Jepang, Ukai Sensei, serta seorang terapis fisik profesional, Haruka-san. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang transfer pengetahuan dari pengalaman langsung internship mahasiswa PKh di Jepang, namun juga menjadi ruang reflektif dan interaktif untuk memperluas wawasan tentang pendekatan pendampingan anak berkebutuhan khusus, khususnya autisme (ASD).

Ukai Sensei memulai sesi dengan menyampaikan rasa bahagianya dapat bertemu dan berdiskusi dengan para peserta. Ia menjelaskan bahwa saat ini terdapat enam mahasiswa PKh UPI yang sedang mengikuti program magang di Jepang dan menunjukkan dedikasi tinggi, termasuk dalam menulis laporan harian berbahasa Jepang. Staf dari TASUC, mitra kerja di Jepang, merasa bangga atas kolaborasi ini. Ukai Sensei berharap, ke depan semakin banyak mahasiswa PKh yang bisa memperoleh pengalaman belajar langsung di Jepang.
Dalam sesi materinya, Ukai Sensei menjelaskan latar belakangnya sebagai peneliti di lembaga internasional dan berpengalaman mendampingi anak dengan autisme. Ia menyoroti bahwa di Jepang, inklusi bagi penyandang disabilitas sangat diperhatikan karena sekitar 15% dari populasi merupakan individu berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, pendekatan yang tepat dan kolaboratif menjadi sangat penting. Salah satu poin utama dalam paparannya adalah pentingnya keterlibatan keluarga secara aktif, bukan hanya sebagai penerima informasi, melainkan sebagai pelaku utama dalam mendukung perkembangan anak.

Mengutip pernyataannya, “Jangan berpikir bisa mendapat ilmu hanya dari mendengar saja,” Ukai Sensei menegaskan pentingnya sikap aktif peserta dalam menyerap dan menyebarluaskan pengetahuan. Materi selanjutnya dibawakan oleh Haruka-san yang membahas tentang aspek tubuh dan sensorimotor pada anak-anak dengan kebutuhan khusus. Haruka-san memulai dengan mengajak peserta membuka materi halaman 14 dan 15 yang berisi karakteristik anak serta metode dukungan yang tepat. Ia menekankan pentingnya asesmen mendalam sebelum merancang pelatihan, dan mengajak peserta mempraktikkan analisis melalui studi kasus.
Salah satu topik menarik yang diangkat adalah penuaan dini pada individu dengan disabilitas, terutama ASD. Dari data statistik yang ditampilkan, kondisi fisik anak-anak dengan gangguan perkembangan otak cenderung menurun sejak usia 45–55 tahun, jauh lebih cepat dibanding individu pada umumnya. Ini menandakan pentingnya perencanaan dukungan jangka panjang.
Materi kemudian berlanjut dengan membahas gangguan koordinasi motorik (Developmental Coordination Disorder/DCD), merujuk pada standar DSM-5. Haruka-san memaparkan tipe-tipe gangguan motorik, termasuk kesulitan dalam aktivitas besar (motorik kasar) maupun aktivitas kecil seperti mengancingkan baju (motorik halus). Kecanggungan motorik ini tidak hanya memengaruhi fisik, tetapi juga aspek emosional dan sosial anak. Sebuah studi tahun 2012 menunjukkan bahwa anak dengan DCD memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi karena kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan sosial.
Ukai Sensei menambahkan bahwa untuk membantu anak-anak ini, lingkungan sekitar – termasuk keluarga dan sekolah – harus memiliki pemahaman mendalam, menyediakan ruang yang ramah, dan mendukung anak membangun citra tubuh (body image) yang positif. Peserta diajak membuka halaman 80–81, membahas tiga aspek penting pembentukan body image: sentuhan (indra peraba), gerakan, dan keseimbangan. Penilaian dilakukan melalui evaluasi terhadap kemampuan mempertahankan postur, meniru gerakan, hingga mengontrol kekuatan otot.
Dalam sesi praktik, peserta melakukan aktivitas sensorik sederhana untuk meningkatkan kepekaan tubuh. Ukai Sensei menjelaskan bahwa pada anak berkebutuhan khusus, seringkali sistem sensorik tidak berfungsi optimal sehingga informasi dari tubuh tidak tersampaikan dengan baik ke otak. Hambatan ini menyebabkan anak menjadi canggung, kesulitan dalam bergerak, hingga mengalami masalah dalam interaksi sosial.
Lebih lanjut, materi membahas tentang peran penting resepsi tubuh dan sintom pada anak DCD. Contoh kasus seperti anak yang sering menabrak tembok atau meja menunjukkan adanya kesulitan persepsi tubuh yang perlu diperhatikan. Bahkan, tokoh terkenal seperti Daniel Radcliffe (pemeran Harry Potter) juga mengaku mengalami DCD dan merasa tidak bahagia semasa sekolah karena kondisi tersebut. Melalui pemindaian otak, terlihat bahwa gangguan koordinasi ini berakar dari hambatan di lobus frontal kiri otak, yang berperan dalam merencanakan dan membayangkan gerakan.
Dari pemetaan sistem saraf motorik, dijelaskan bagaimana jalur koordinasi gerak dimulai dari otak hingga ke jari kelingking, dengan peran penting motorik kasar dan halus dalam proses perkembangan. Latihan-latihan seperti tengkurap di atas gym ball dan menggunakan alat bantu seperti Peko Panda untuk melatih lidah menjadi salah satu metode intervensi yang direkomendasikan. Haruka-san juga memperkenalkan alat tiup sederhana yang membantu memperkuat otot sekitar mulut dan mengontrol pernapasan saat berbicara.
Sesi ini kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi yang berjalan secara hybrid, baik offline maupun online. Beberapa pertanyaan dari peserta menyoroti isu terkait disfasia dan disleksia pada anak autis, perbedaan penanganan antara anak dengan autisme dan ADHD, serta cara mengatur fokus anak ASD saat diberi instruksi. Ukai Sensei memberikan penjelasan mendalam, termasuk tips praktis seperti teknik memegang jari kelingking anak dengan niat dan kontak fisik lembut agar anak fokus mendengar instruksi.
Isu mengenai emosi anak remaja ASD juga menjadi perhatian. Seorang ibu bertanya mengenai anak ASD berusia 19 tahun yang masih sering tantrum. Ukai Sensei menjelaskan bahwa stabilisasi emosi baru terbentuk sekitar usia 26–30 tahun dan penting untuk menciptakan rutinitas harian yang aktif dan struktural sejak dini. Ia juga menekankan perlunya lebih banyak program vokasional bagi remaja dan dewasa muda dengan ASD di Indonesia, mencontohkan praktik baik dari Jepang.
Secara keseluruhan, kegiatan kuliah umum ini memberikan pengalaman belajar yang sangat berharga bagi seluruh peserta. Dengan pendekatan praktis dan berbasis penelitian, Ukai Sensei dan Haruka-san berhasil menyampaikan materi secara mendalam namun tetap mudah dipahami. Diharapkan, wawasan dan keterampilan yang diperoleh dari sesi ini dapat diaplikasikan oleh peserta dalam praktik pendampingan anak berkebutuhan khusus, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun komunitas yang lebih luas.