Bandung, 27 Agustus 2025 – Program Studi Pendidikan Khusus (PKh) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar kegiatan bertajuk “Integrating Therapy into The Classroom: The Bizara Experience” yang berlangsung di Ruang Rapat Prodi PKh Lt.2 serta secara hybrid. Kegiatan ini menghadirkan 21 peserta luring dan daring dengan narasumber utama dari Bizara School, Malaysia.
Acara dibuka oleh Encik Wan Zakaria Wan Abu Bakar, pendiri Bizara School, sebuah sekolah swasta untuk anak berkebutuhan khusus (ABK) yang berdiri sejak 2018. Dalam paparannya, Wan Zakaria menjelaskan perjalanan Bizara dari sebuah sekolah kecil di apartemen dengan tiga siswa ABK hingga berkembang menjadi institusi yang kini melayani 74 siswa dengan berbagai kebutuhan khusus, seperti autisme, ADHD, Down Syndrome, hingga disabilitas intelektual.
Cik Aiman, salah satu pengelola Bizara, menekankan makna Bizara yang berasal dari bahasa Arab, yaitu menanam benih dan tempat penuh kasih sayang. Menurutnya, ABK harus tumbuh dalam lingkungan yang penuh perhatian, terlebih di tengah kesibukan orang tua. Bizara kemudian pindah dari Shah Alam ke Kelantan karena kondisi lingkungan yang lebih alami dan mendukung tumbuh kembang anak.
“Anak berkebutuhan khusus bukan hanya dididik secara akademik, tetapi juga dilatih keterampilan hidup dan didorong untuk tampil percaya diri di ruang publik, bahkan hingga media massa,” jelas Aiman.
Cik Nadia, Kepala TK Bizara, memaparkan bahwa fokus pembelajaran anak usia dini di Bizara mencakup enam aspek utama: perkembangan bahasa, keterampilan numerasi, motorik, sosial, sosial-emosional, serta nilai moral. Guru di Bizara bertindak sebagai fasilitator dengan metode play-based learning, eksplorasi benda nyata, hingga terapi edukatif terpadu yang menggabungkan terapi okupasi, wicara, dan psikologi.
Sementara itu, Cik Aida, Kepala SD-SMA Bizara, menekankan pentingnya integrasi terapi dengan pendidikan formal. Menurutnya, terapi di Bizara dilakukan setiap hari dengan frekuensi tinggi, lebih berdampak dibanding kunjungan berkala. Lingkungan inklusif di Bizara menghadirkan ruang terapi berbasis alam, seni, kuliner, hingga interaksi dengan hewan.
“Bagi guru, kepuasan terbesar adalah ketika anak yang awalnya tidak bisa akhirnya mampu. Misalnya, toilet training yang berhasil dalam waktu tiga bulan menjadi pencapaian luar biasa,” tutur Aida.
Bizara mengedepankan kerja sama erat antara guru, keluarga, dan masyarakat. Terapi sosial, sensorik, bahasa, hingga motorik tidak hanya diterapkan di kelas, tetapi juga dalam proyek sekolah besar yang berdampak jangka panjang pada regulasi emosi, kepercayaan diri, serta kemandirian anak.
Sesi diskusi interaktif bersama mahasiswa PKh UPI menyoroti tantangan adaptasi pembelajaran individual, komunikasi dengan orang tua, hingga peluang magang di Bizara School. Menariknya, Bizara membuka kesempatan magang bagi mahasiswa dengan biaya terjangkau dan fasilitas tempat tinggal.
Kegiatan ini memberikan inspirasi bagi dosen dan mahasiswa PKh UPI dalam mengembangkan praktik pendidikan inklusif yang terintegrasi dengan terapi. Seperti disampaikan para narasumber, kunci dari mendidik ABK adalah kreativitas, kesabaran, dan keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi untuk berkembang.