
Bandung, 26 Agustus 2025 – Program Studi Pendidikan Khusus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggelar kegiatan Sharing with Lectures bertajuk “Leading with Heart: a Malaysian Story of Inclusive Education and Empowerment” yang berlangsung di Ruang Rapat Lt.2, Kamis (28/08). Acara ini menghadirkan Encik Wan Zakaria Wan Abu Bakar dari Bizara International Malaysia sebagai narasumber, dengan dihadiri 15 peserta yang terdiri dari tujuh perwakilan Malaysia dan dosen-dosen Pendidikan Khusus UPI.

Dalam pemaparannya, Encik Aiman dari Bizara International menjelaskan konsep Learning Without Labels yang diterapkan di Bizara—sebuah pusat pendidikan anak berkebutuhan khusus yang berlokasi di Shah Alam, Kuala Lumpur. “Kami percaya setiap anak dapat berkembang optimal tanpa harus dibatasi oleh label diagnosa. Di Bizara, pembelajaran disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak, berbasis komunitas, dan mengedepankan pendekatan natural yang ramah keluarga,” ungkapnya.
Bizara, yang awalnya berdiri dengan modal hanya 700 Ringgit Malaysia dan beroperasi dari rumah ke rumah, kini berkembang menjadi lembaga pendidikan inklusif berskala internasional. Saat ini, Bizara memiliki dua cabang dengan 74 siswa dari berbagai negara seperti Malaysia, Thailand, dan Jepang. Dukungan pemerintah melalui kartu ABK, kolaborasi dengan rumah sakit, NGO, hingga pengakuan dari tokoh penting Malaysia menjadi bukti keberhasilan pendekatan inklusif yang mereka jalankan.

Sementara itu, Miss Aida memaparkan sistem inklusif dan pemberdayaan di Bizara yang menempatkan setiap anak sebagai individu unik. “Kami menerapkan kurikulum adaptif, berbasis minat, dan penilaian perkembangan yang disesuaikan secara personal melalui IEP. Murid tidak hanya belajar akademik, tapi juga dilatih kemandirian, ekspresi diri, dan kepemimpinan dalam pembelajaran,” jelasnya. Berbagai fasilitas seperti Bizara Café, Music Room, Grand Hall, Aquascape, hingga kebun pertanian menjadi bagian integral dari proses pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna bagi anak-anak.
Menariknya, Bizara mengadopsi prinsip “Jaga Perut, Jaga Emosi, dan Bermain Bersama” sebagai fondasi pendidikan. “Anak harus merasa aman, bahagia, dan terpenuhi kebutuhannya agar bisa belajar dengan baik,” tambah Miss Aida. Pendekatan ini menjadi pembeda Bizara dibanding sekolah inklusif lainnya di Malaysia yang umumnya masih berfokus pada akademik formal.
Kegiatan ini menjadi momen penting bagi dosen Pendidikan Khusus UPI untuk memperluas wawasan tentang praktik pendidikan inklusif internasional, sekaligus membuka peluang kolaborasi antara UPI dan Bizara International di masa depan.